Jul 29, 2016

Media Tidak Pernah Netral?


Reshuffle kabinet yang terjadi saat ini menarik disimak. Bagi saya yang menarik bukan hanya pada jumlah posisi rotasi menteri yang cukup banyak, atau mengapa tidak ada menteri perempuan yang diganti. Namun yang menarik adalah digantinya sosok menteri ESDM, Pak Sudirman Said, oleh Pak Arcandra Tahar.

Pergantian Pak Menteri Sudirman Said ini entah kenapa mengingatkan saya pada kejadian beberapa bulan lalu yang sempat menghebohkan Indonesia, yakni kasus “Papa Minta Saham”. Waktu itu, bersama Pak Ma’roef Sjamsuddin, Pak Sudirman Said menjadi saksi pencatutan nama presiden untuk meminta bagian saham dari PT. Freeport. Tersangkanya adalah Pak Setya Novanto, Ketua DPR yang berasal dari Partai Golkar. Diindikasikan ada pelanggaran kode etik sebagai ketua dewan yang turut campur dalam perbaruan kontrak PT. Freeport yang konon akan jatuh tempo pada tahun-tahun ini.

Kehebohan kasus “Papa Minta Saham” mencapai klimaksnya ketika sidang kode etik yang dilakukan oleh MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) disiarkan secara langsung melalui televisi parlemen dan direlay oleh banyak stasiun televisi swasta. Sebenarnya ada beberapa sidang yang dilakukan oleh MKD, namun yang kebetulan saya tonton adalah ketika Pak Sudirman dan Pak Ma’roef menjadi saksi (seingat saya sidang Pak Novanto tidak disiarkan secara langsung).

Ketika menonton siaran langsung sidang itulah saya merasakan ada keberpihakan oleh beberapa stasiun televisi yang menyiarkan langsung acara tersebut. Misalnya saja, stasiun televisi A yang cenderung memilih narasumber pendukung partai Pak Novanto. Sebaliknya, stasiun televisi B memilih para pendukung oposannya. Tidak hanya itu, diksi yang dipilih oleh para anchor pun seakan menguatkan keberpihakan stasiun televisi terhadap salah satu pihak. Saya sebagai penonton merasa digiring untuk menghakimi seseorang. Hal ini ternyata ditemukan juga jauh-jauh hari sebelumnya dalam sebuah penelitian yang melihat salah satu stasiun televisi berita nasional yang seringkali menunjukkan sikap keberpihakan, dengan menggunakan banyak variasi kosakata dan metafora dalam pemberitaannya (Agung : 2010). Sepertinya adagium yang selama ini saya ketahui bahwa media tidak pernah netral benar adanya.

Sebenarnya apa sih maksud media menggiring khalayaknya pada perspektif tertentu? Banyak kajian yang dapat digunakan untuk menebak tujuan media. Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang dikenal dalam kajian komunikasi sebagai ‘agenda setting”. Media, dengan segenap ideologinya, berkepentingan untuk mengarahkan khalayak agar mereka berpikir dan bertindak sebagaimana yang dikehendaki. Kurt Lang dan Gladys Engel Lang (dalam Tamburaka: 2012) mengatakan bahwa : “Media masa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-individu dalam masyarakat.” Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa: (1) masyarakat pers dan media tidak mencerminkan kenyataan, mereka menyaring dan membentuk isu; dan (2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.

Para peneliti komunikasi mengenal berbagai macam perspektif discourse untuk meneliti fenomena seperti yang saya ceritakan itu, seperti pendekatan Derrida dengan “deconstruction”, Michel Foucault dengan “genealogy and social criticism”, Frederic Jameson dengan analisis Marxist, hingga Julia Kristeva dengan interpretasi feminis (Ida: 2014). Agung (2010) misalnya, menebak besarnya kepentingan pasar dalam penayangan sebuah wacana berita dibanding kualitas persyaratan berita itu sendiri. Peneliti komunikasi lainnya mungkin akan mendapati hasil lain sesuai perspektif wacana yang digunakannya.

Kembali pada kasus “Papa Minta Saham”, saya kebetulan mengabadikan tiga gambar dari siaran langsung sidang MKD. Tiga gambar tersebut saya dapatkan dari siaran TV One, MetroTV, dan KompasTV. Memang ketiga stasiun televisi ini termasuk yang menjadi rujukan pemberitaan di Indonesia. Dua stasiun televisi pertama yang saya sebutkan, seringkali sekali berseberangan pandangan. Saya mengamati perbedaan pandangan ini sejak zaman Pilpres pada tahun 2014 yang lalu. Ternyata ketika wacana yang menarik perhatian publik seperti kasus “Papa Minta Saham” terjadi, kedua stasiun televisi ini juga terlihat berseberangan lagi.

Berikut ini beberapa gambar yang saya dapatkan melalui kamera ponsel saya (maaf kalau buram ya).


Pertama adalah gambar yang saya foto dari siaran langsung di TV One. Judul yang dipilih adalah: Menguji Kesaksian Sudirman. Kesan yang saya dapatkan dari judul ini adalah bahwa kesaksian Pak Sudirman perlu diuji karena bisa benar atau salah. Kalau diamati running text di bagian bawah (warna merah) bertuliskan “Sudirman akui dekat dengan Freeport Indonesia”. Saya merasa seakan digiring untuk memiliki persepsi bahwa Sudirman bersalah karena dekat dengan Freeport (yang memiliki citra buruk di sebagian kalangan masyarakat Indonesia seperti saya, karena cerita yang beredar mengenai pengerukan terhadap sumber daya alam di Papua).


Kedua, gambar dari siaran langsung MetroTV yang memilih judul “Mengadili Etika Novanto”. Stasiun televisi berita ini tampak berkebalikan dengan TV One. Saya mendapatkan kesan bahwa saksi, Pak Sudirman dan Pak Ma’roef, sudah hampir pasti benar. Yang salah di sini adalah Pak Novanto, Ketua DPR. Sehingga perlu diadili etikanya, karena mendekati komisaris PT. Freeport untuk meminta bagian saham.



Gambar ini adalah judul yang dipilih oleh Kompas TV: Kesaksian Sudirman di MKD. Saya melihat judul ini lebih bersifat deskriptif (alih-alih mengatakan lebih netral) dibandingkan kedua televisi sebelumnya. Entah bagaimana dengan pemirsa yang lain, judul seperti ini seakan mengatakan bagaimana stasiun televisi yang dimiliki oleh Kompas-Gramedia grup ini sedang membangun kredibilitasnya. Jadi jangan salahkan saya kalau pada akhirnya lebih sering menonton televisi ini dibandingkan televisi berita yang lain, hehehe.

Setelah semua kejadian yang sempat menjadi pembicaraan hangat di masyarakat (bahkan sampai-sampai ada yang mengedarkan transkrip pembicaraan antara Pak Setya Novanto dan Pak Ma’roef), Pak Soedirman akhirnya harus mengepak barang-barangnya di kantor Kementerian ESDM. Entah, apakah reshuffle ini berkaitan dengan gaduh kasus “Papa Minta Saham” atau tidak.


Referensi:
Agung, M. (2010). Kendali Pasar dalam Pemberitaan di Televisi Swasta Nasional. Jurnal Konvergensi: Vol. 1 No. 1 pp. 41-46
Tamburaka, A. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers
Ida, R. (2014). Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media Group

Kredit foto: stanfordflipside.com dan koleksi pribadi
Read More

Jun 23, 2016

Fenomenologi Heidegger

Filsafat ibarat rumah, ia terdiri dari kamar-kamar yang terkunci rapat. Paling tidak, ada tiga kamar besar di rumah itu. Kamar pengetahuan, nilai, dan “ada” (metafisika/ontologi). Masing-masing kamar itu memiliki subkamar sendiri-sendiri, bahkan ada lagi kamar yang lebih kecil di dalamnya.

Dapat dibayangkan betapa luasnya rumah filsafat itu. Sedemikian luasnya hingga tidak semua filsuf sempat menjelajahi seluruh kamar. Meskipun demikian, ada beberapa filsuf yang mampu mendiami beberapa kamar sekaligus, yakni menguasai beberapa tema filsafat. Namun ada pula filsuf yang hanya berkonsentrasi pada satu tema filsafat.

Filsafat fenomenologi merupakan satu subkamar, atau bahkan mungkin kamar yang lebih kecil lagi, dalam naungan kamar besar “ada”. Apabila kita memelajari kajian filsafat fenomenologi ini, mau tidak mau pasti akan menyebut sebuah nama, Martin Heidegger, setara dengan nama-nama besar lain dalam kamar filsafat Fenomenologi. Hal ini karena gagasan-gagasannya yang menggetarkan filsafat Barat, getaran yang konon katanya hanya bisa ditandingi oleh sang filsuf godam: Nietzsche.



Meskipun Heidegger sedemikian terkenalnya, ternyata pemikirannya laksana rimba belantara: gelap, suram, dan rumit. Wajar saja kalau kemudian Heidegger pada akhirnya berkenalan dan mendiami salah satu subkamar rumah filsafat dengan modus berpikir paling rumit di jagat ini: filsafat fenomenologi.

Fenomenologi memandang dunia manusia bukan semata sebagai dunia pengamatan, melainkan yang paling primordial: dunia penghayatan (labenswelt). Dunia penghayatan berbeda dengan dunia pengamatan yang menjadi basis sains. Dunia penghayatan adalah cikal bakal dunia pengamatan yang dilupakan. Kelupaan yang menurut Edmund Husserl (tokoh fenomenologi sebelum Heidegger) telah menimbulkan krisis ilmu pengetahuan. Pengalaman manusia yang sangat purwa-rupa, dalam dunia pengamatan diabstraksi habis dalam formula-formula kering. Pada akhirnya abstraksi kering tersebut juga membuat miskinnya pemahaman tentang “ada” atau being.

Heidegger mengingatkan kelalaian filsafat Barat dalam melakukan “pembedaan ontologis” antara “Ada” (Sein) dan “mengada” (Seiendes). Filsafat Barat ketika itu menafsirkan “Ada” yang sama dengan “mengada”. Rumah, jalan, dan pohon, misalnya, semuanya “ada”. Namun “Ada” bukanlah semata-mata rumah, jalan, atau pohon. “Ada” adalah sesuatu yang melampaui sekaligus menyelubungi “mengada”. Sein dan seiendes inilah yang menjadi persoalan antara manusia sebagai sesuatu yang otentik dan manusia sebagai yang inotentik. Manusia yang otentik selalu mencari alasan eksistensialnya, sementara manusia otentik seringkali puas dengan eksistensinya saat ini.

Kelalaian filsafat Barat mengenai pemisahan dua konsep ontologis tersebut berakibat fatal. Pertanyaan filsafat Barat sebelumnya selalu berbasiskan asumsi tentang “ada” sebagai benda-benda deskriptif. Padahal “Ada”, dengan “a” besar, bagi Heidegger lebih agung dari itu. Pertanyaan filsafat harusnya dikonsentrasikan pada “Ada” yang agung itu. “Ada” yang menuntut perubahan pertanyaan filosofis. “Ada” yang tidak bisa direduksi menjadi benda-benda. Pertanyaan tentang “Ada” harus dibedakan dengan sekedar pertanyaan tentang “apa itu komputer?”, misalnya. Pertanyaan tentang “Ada” ini pada akhirnya hanya dapat melihat bunga mawar merah tidak sekedar onggokan definisi biologis, namun dapat juga bermakna romantis.

Jika “Ada” tidak memiliki sifat kebendaan, lalu bagaimana mencari tahu apa “Ada” itu sesungguhnya? Heidegger menawarkan untuk memulai dari satu-satunya sosok yang mempersoalkan “Ada”: manusia. Karena manusia bukan benda, maka Heidegger memilih istilah dasein. Dalam bahasa Jerman “Da” berarti di sana (ruang waktu), dan “Sein” yang berarti ada. Sehingga dasein berarti “ada di sana (ruang waktu)”. Manusia selalu merupakan “ada” yang menemukan dirinya terjebak dalam ruang waktu tertentu.

Secara tidak langsung, Heidegger menunjukkan lewat sebuah analisis yang panjang, pelan-pelan, dan seringkali sederhana, bahwa apa yang tampaknya merupakan pengalaman yang uniter (menyatukan) itu mestilah kenyataannya mengandung sejumlah isi yang bisa dipilah-pilah.

Yang pertama, agar muncul kesadaran akan sesuatu, maka harus ada sesuatu yang ditangkap sebagai sedang berlangsung; harus ada bidang aktivitas dan bidang kejadian betapa pun kaburnya, entah itu bersifat inderawi, mental, emosional, imajinasi, fisik, atau lainnya. Harus ada rasa (sense), betapa pun terbatas dan primitifnya, akan adanya bidang kejadian, sebuah “dunia” kesadaran, meski itu mungkin sekadar sebuah layar yang bersifat mental (mental screen). Dalam artian ini, “keduniaan” (worldishness) merupakan bahan yang niscaya bagi adanya kesadaran. Yang kedua, agar sesuatu itu terasa sedang berlangsung, maka harus ada dimensi waktu. Keberlangsungan (ongoingness) macam apa pun tak akan mungkin tanpa adanya waktu, meski hal ini berarti membuka pertanyaan mengenai apa waktu itu. Yang ketiga, agar kita bisa menyadari sesuatu , sesuatu itu harus membentuk pengalaman. Secara singkat, ada tiga bahan yang niscaya agar sebuah kesadaran (ada yang diinsafi) bisa muncul: yaitu keduniaan, waktu, dan keterlibatan.

Hidup terus berlanjut, demikian juga pemikiran Heidegger. Keyakinan dalam memahami makna ada lewat manusia yang disebutnya Dasein, lambat laun berubah, dan terjadilah die Kehre, pembalikan dalam pemikiran Heidegger. Di dalam usia tuanya Heidegger menulis buku Beitrage zur Philosophie (Vom Ereignis) (Kontribusi-kontribusi untuk Filsafat [Tentang Peristiwa], 1936-1937), salah satu buku penting yang menandai apa yang disebut die Kehre itu. Di situ dia berpikir bahwa Ada dapat ditangkap tanpa perantaraan manusia, karena Ada itu tidak tersembunyi dan membuka diri. Pemikiran yang misterius lagi.

Bagaimanapun Heidegger adalah manusia. Sesuai perkataannya sendiri: “Dia yang memikirkan pemikiran-pemikiran besar sering membuat kekeliruan-kekeliruan besar”. Selain sebagai salah satu metafisikus besar abad ke-20, Heidegger juga terlibat Nazi, dan berselingkuh dengan salah satu mahasiswinya, Hannah Arendt. Pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai ada selalu dijawab dengan penjelasan yang panjang lebar oleh Heidegger, namun dia selalu bungkam ketika ditanya dua “kesalahan” yang dilakukannya dalam hidup tersebut. Bungkam hingga Heidegger wafat.

Referensi:
Adian, D.G. (2002). Martin Heidegger: Seri Tokoh Filsafat. Jakarta: Penerbit Teraju
Hardiman, F.B. (2016). Heidegger dan Para Pensiunan. Dalam F.B. Hardiman (Ed.), Filsafat untuk Para Profesional (pp. 201-216). Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Kuswarno, E. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran
Magee, B. (2005). Memoar Seorang Filosof: Pengembaraan di Belantara Filsafat. (Eko Prasetyo, Pen.) Bandung: Penerbit Mizan

Foto: www.pinterest.com
Read More

May 17, 2016

Teori Pertukaran Kasih Sayang

Kita sering mendengar atau mengamati orang yang terjalin dalam sebuah hubungan dekat saling mengucapkan dan mengungkapkan rasa kasih sayangnya. Ucapan dan ungkapan kasih sayang tersebut memprakarsai dan memelihara hubungan antarpribadi diiringi dengan beberapa perilaku lainnya seperti memeluk, mencium, atau sekedar memegang tangan. Ternyata perilaku-perilaku tersebut merupakan insting bertahan hidup manusia, setidaknya menurut Teori Pertukaran Kasih Sayang (TPK) yang akan saya sitir berikut ini.

Teori ini ditulis oleh Kory Floyd, Jeff Judd, dan Colin Hesse (2008) dengan judul aslinya Affection Exchange Theory: A Bio-Evolutionary Look at Affectionate Communication. TPK merupakan konstruk subteoritis yang berasal dari prinsip-prinsip psikologi evolusioner. Teori neo-Darwinian seperti TPK berkonsentrasi dalam proses seleksi alam, yang menyatakan bahwa perilaku manusia telah berevolusi dalam menanggapi sebuah kesulitan kehidupan dengan sedemikian rupa sehingga karakteristik yang memberi keuntungan dalam menjawab tantangan-tantangan hidup dan/atau melanjutkan keturunan akan lebih sering diwariskan ke generasi berikutnya dibandingkan karakteristik yang netral atau negatif.

Selanjutnya, manusia telah mengembangkan serangkaian strategi tertentu untuk menarik dan mempertahankan pasangan yang memiliki sifat-sifat menguntungkan serta untuk meneruskan sifat-sifat ini kepada keturunannya melalui proses reproduksi seksual. TPK mengkonseptualisasikan bahwa mengungkapkan dan menerima kasih sayang merupakan perilaku evolusioner menguntungkan yang meningkatkan kemungkinan bertahan hidup komunikator dan reproduksi yang sukses, di mana hal tersebut merupakan tujuan inti dari semua manusia.


Asumsi Teori

Asumsi-asumsi pokok TPK mengikuti tradisi pemikiran evolusi dalam mahzab neo-Darwinian. Beberapa asumsinya antara lain bahwa: (a) Reproduksi dan kelangsungan hidup, keduanya merupakan tujuan-tujuan manusia yang pokok; (b) Perilaku-perilaku komunikasi dapat bertindak terhadap salah satu atau kedua tujuan pokok tersebut, bahkan dengan cara-cara yang spekulatif; dan (c) Individu-individu tidak perlu sadar tentang tujuan perilaku-perilaku evolusioner yang mereka lakukan.

Selain ketiga asumsi di atas, ada dua asumsi lainnya yang mendukung. Pertama, manusia sebagaimana organisme lainnya, tunduk kepada prinsip-prinsip mengenai seleksi alam dan seleksi seksual. Artinya, seperti kata Darwin, sifat atau kecenderungan-kecenderungan yang menguntungkan sebuah organisme berkenaan dengan reproduksi atau kelangsungan hidup akan diseleksi guna memperbesar kemungkinan kelangsungan hidup generasinya. Kedua, perilaku komunikasi manusia hanya sebagian yang tunduk terhadap kesengajaan/kesadaran diri komunikator. Secara tidak sadar, selain dipengaruhi oleh konteks sosial, perilaku komunikasi manusia juga dalam pengaruh faktual proses biologis dan adaptasi evolusioner. Dengan kata lain aspek-aspek sosial hubungan manusia secara tidak langsung berkaitan dengan aspek biologis juga, bahkan evolusi. Komunikasi penuh kasih sayang dapat berkontribusi tidak hanya tentang kesehatan hubungan (sosial), tetapi juga kesehatan orang itu sendiri (biologis).

Beberapa postulat

TPK memulai dengan postulat pertama dengan proposisi “kebutuhan dan kapasitas untuk kasih sayang adalah pembawaan sifat manusia kita”. Manusia dilahirkan dengan kemampuan dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, dimana sebagian ditimbulkan oleh masyarakat, sebagian yang lain oleh struktur fisik otak kita. Dengan demikian, kasih sayang adalah sumber yang dicari dan diinginkan dalam hubungan interpersonal kita.

Postulat kedua mengenai TPK menekankan sebuah konsep penting bahwa “perasaan kasih sayang dan ekspresi penuh kasih sayang merupakan pengalaman berbeda yang seringkali (tapi tidak selalu) bervariasi bersama (co-vary)”. Dengan demikian, tipe-tipe pesan ini seringkali hanya melibatkan ekspresi kasih sayang, dan bukan pengalaman kasih sayang. Mengutip pendapat Ekman dan Friesen (1975) tentang aturan penampilan (display rules) yang melihat perbedaan pengalaman dan ekspresi kasih sayang dalam beberapa cara. Pertama, Komunikator bisa saja menghambat emosi mereka, di mana mereka tidak mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kedua, komunikator dapat membuat simulasi emosi yang tidak mereka rasakan. Komunikator mungkin juga dapat mengekspresikan emosinya dalam tingkatan intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan emosi yang benar-benar mereka rasakan. Selain itu, emosi dapat juga tertutup oleh emosi lainnya.

Postulat TPK ketiga menyatakan bahwa “komunikasi penuh kasih sayang bersifat adaptif dan menguntungkan dalam kerangka ‘perburuan’ manusia terhadap kehidupan dan kesuburan,” sedangkan menerima dan menyampaikan pernyataan-pernyataan penuh kasih sayang berkontribusi bagi kelangsungan hidup dan keberhasilan reproduksi. Komunikasi penuh kasih sayang membantu dalam penciptaan ikatan antarmanusia, yang memberi manfaat perlindungan dan pembagian sumber daya dari kedua belah pihak. Dalam ikatan pasangan, misalnya, beban membesarkan anak terbagi secara fisik bagi pasangan tersebut, sehingga mengurangi beban masing-masing dan tentu saja bermanfaat juga untuk kelangsungan hidup anaknya. Sebagaimana tujuan reproduksi manusia adalah untuk melihat garis genetika yang disandang oleh keturunannya, manfaat fisik dan emosional memberikan kasih sayang kepada anak juga untuk memenuhi kebutuhan orangtua.

Keempat, “umat manusia berbeda dalam konteks toleransi-toleransi optimal bagi kasih sayang dan perilaku penuh kasih sayang.” Hal ini berarti tidak ada struktur kasih sayang standar yang sama bagi setiap manusia, sehingga ada berbagai toleransi untuk kasih sayang yang berbeda-beda tergantung individunya.

Postulat terakhir menyatakan “perilaku kasih sayang yang berada pada keadaan diatas atau di bawah rata-rata toleransi dapat mengakibatkan konsekuensi fisik, emosional, dan relasional yang negatif.” Beberapa penelitian juga mendukung postulat kelima, di mana ditemukan bahwa kurangnya kasih sayang merupakan pendorong banyak pasangan mencari terapi perkawinan. Kegagalan memenuhi kebutuhan kasih sayang, dengan demikian, merupakan ancaman stabilitas relasional. Hal yang sama juga terjadi bagi pasangan yang berlebihan dalam mengekspresikan kasih sayangnya, misalnya saja menjadikan seseorang posesif.

Model segitiga Floyd dan Morman (1998) mengenai perilaku kasih sayang menambahkan kejelasan konseptual mengenai kasih sayang dengan membedakan diantara tiga bentuk penampilannya. Pertama, komunikasi “verbal” tentang kasih sayang terdiri dari pernyataan-pernyataan penuh kasih sayang lisan dan tertulis seperti, “Aku cinta padamu” atau “Kau sangat berarti bagiku”. Kedua, komunikasi “nonverbal langsung” tentang kasih sayang meliputi perilaku-perilaku nonlinguistik dan paralinguistik yang menunjukkan kasih sayang dalam komunitas hubungan atau berbicara di mana hal itu digunakan termasuk dalam konteks ini misalnya saja perilaku memeluk, berciuman, atau berpegangan tangan, meskipun dalam budaya dan norma masyarakat tertentu, perilaku nonverbal langsung dapat berbentuk lain. Ketiga, komunikasi “nonverbal tidak langsung” terdiri dari perilaku-perilaku yang menunjukkan kasih sayang melalui alokasi tentang dukungan sosial atau materiil. Ini dapat meliputi hal-hal seperti membantu pengerjaan tugas, menawarkan tumpangan motor, meminjami motor dan sebagainya. Tidak seperti dengan pernyataan-pernyataan verbal dan nonverbal langsung, pesan dengan penuh kasih sayang dalam pernyataan-pernyataan nonverbal tidak langsung merupakan tambahan kepada konteks perilaku kasih sayang itu sendiri dan oleh karenanya seringkali kurang jelas.

Penelitian terkait

Meskipun kebanyakan orangtua mungkin akan menyatakan bahwa mereka menjalankan perilaku penuh kasih sayang secara sama kepada semua anak-anaknya, namun TPK menghipotesiskan sebaliknya. Para orangtua seringkali memberikan kasih sayang yang lebih kepada anak-anak yang paling mungkin menghasilkan keturunan dari mereka (meskipun teori ini tidak menyatakan bahwa para orangtua melakukannya secara sadar).

Hal pemberian kasih sayang yang berbeda ini tentu saja masih berkaitan dengan teori neo-Darwinisme yang dibahas sebelumnya. Misalnya saja penelitian Floyd (2001); Floyd, Sargent & DiCorcia (2004) bahwa para ayah cenderung memberikan kasih sayang yang lebih kepada anak-anak laki-laki mereka yang heteroseksual daripada anak-anak laki-laki mereka yang homoseksual. Menurut TPK, ini karena homoseksualitas juga menghalangi proses reproduksi.

Selain itu, sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa menerima perilaku kasih sayang (misalnya saja sentuhan dengan penuh kasih sayang) bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Namun demikian, TPK memiliki aspek inovatif di mana individu dapat juga memperoleh manfaat-manfaat kesehatan dengan “memberikan” kasih sayang kepada orang lain.

TPK juga menetapkan bahwa menyatakan kasih sayang mengurangi kerentanan tubuh terhadap stress dan menggerakkan sistem-sistem imbalan hormonnya, yang mengandung obat penenang dan pengaruh-pengaruh analgesik. Jadi jangan lupa untuk memberi dan menerima kasih sayang serta mengekspresikannya, semua untuk kesehatan kita.

Referensi:

Budyatna, M. (2015). Teori-teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Prenadamedia Group
Redclick, M.H. (2015). Love Me True: Deception, Affection, and Evolutionary Strategies of Human Mating. The University of Texas at Austin : Tesis

Foto : www.telegraph.co.uk
Read More

May 11, 2016

Ten Key Issues about (Development) Communication

This time I will presented the 10 points address some of the myths and misconceptions about communication, especially when related to the field of development. These misconceptions can often be the cause of misunderstandings and lead to inconsistent and ineffective use of communication concepts and practices. The first two points on this list are about communication in general, while the others refer to development communication in particular.

(1) “Communications” and “communication” are not the same thing. The plural form refers mainly to activities and products, including information technologies, media products, and services (the Internet, satellites, broadcasts, and so forth). The singular form, on the other hand, usually refers to the process of communication, emphasizing its dialogical and analytical functions rather than its informative nature and media products. This distinction is significant at the theoretical, methodological, and operational levels.

(2) There is a sharp difference between everyday communication and professional communication. Such a statement might seem obvious, but the two are frequently equated, either overtly or more subtly, as in, “He or she communicates well; hence, he or she is a good communicator.” A person who communicates well is not necessarily a person who can make effective and professional use of communication. Each human being is born communicator, but not everyone can communicate strategically, using the knowledge of principles and experience in practical applications. A professional (development) communication specialist understands relevant theories and practices and is capable of designing effective strategies that draw from the full range of communication approaches and methods to achieve intended objectives.

(3) There is significant difference between development communication and other types of communication. Both theoretically and practically, there are many different types of applications in the communication family. In The World Bank publication, they refer to four main types of communication, which are represented significantly in their work: advocacy communication, corporate communication, internal communication, and development communication. Each has a different scope and requires specific knowledge and skills to be performed effectively. Expertise in one area of communication is not sufficient to ensure results if applied in another area.

(4) The main scope and functions of development communication are not exclusively about communicating information and messages, but they also involve engaging stakeholders and assessing the situation. Communication is not only about “selling ideas.” Such a conception could have been appropriate in the past, when communication was identified with mass media and the linear Sender-Message-Channel-Receiver model, whose purpose was to inform audiences and persuade them to change. Not surprisingly, the first systematic research on the effects of communication was carried out soon after World War II, when communication activities were mostly associated with controversial concept—propaganda. Currently, the scope of development communication has broadened to include an analytical aspect as well as a dialogical one—intended to open public spaces where perceptions, opinions, and knowledge of relevant stakeholders can be aired and assessed.



(5) Development communication initiatives can never be successful unless proper communication research is conducted before deciding on the strategy. A communication professional should not design a communication campaign or strategy without having all the relevant data to inform his or her decision. If further research is needed to obtain relevant data, to identify gaps, or to validate the project assumptions, the communication specialist must not hesitate to make such a request to the project management. Even when communication specialist is called in the middle of a project whose objectives appear straightforward and clearly defined, specific communication research should be carried out if there are gaps in the available data. Assumptions based on the experts’ knowledge should always be triangulated with other sources to ensure their overall validity. Given its interdisciplinary and cross-cutting nature, communication research should ideally be carried out at the inception of any development initiative, regardless of the sector or if communication component would be needed at a later stage.

(6) To be effective in their work, development communication specialists need to have a specific and in-depth knowledge of the theory and practical applications of the discipline. In addition to being familiar with the relevant literature about the various communication theories, models, and applications, development communication specialists should also be educated in the basic principles and practices of other interrelated disciplines, such as anthropology, marketing, sociology, ethnography, psychology, adult education, and social research. In the current development framework, it is particularly important that a specialist be acquainted with participatory research methods and techniques, monitoring and evaluation tools, and basics principles of strategy design. Additionally, a good professional should also have the right attitude toward people, being empathic and willing to listen and to facilitate dialog in order to elicit and incorporate stakeholders’ perceptions and opinions. Most of all, a professional development communication specialist needs to be consistently issue-focused, rather than institution-focused.

(7) Development communication support can only be as effective as the project itself. Even the most well-designed communication strategy will fail if the overall objectives of the project are not properly determined, if they do not enjoy a broad consensus from stakeholders, or if the activities are not implemented in a satisfactory manner. Sometimes communication experts are called in and asked to provide solutions to problems that were not clearly investigated and defined, or to support objectives that are disconnected from the political and social reality on the ground. In such cases, the ideal solution is to carry out field research or a communication-based assessment to probe key issues, constraints, and feasible options. Tight deadlines and budget limitations, however, often induce managers to put pressure on communication experts to produce quick fixes, trying to force them to act as short-term damage-control pubic relations or “spin doctors.” In such case, the basic foundations of development communication are neglected, and the results are usually disappointing, especially over the long term.

(8) Development communication is not exclusively about behavior change. The areas of intervention and the applications of development communication extend beyond the traditional notion of behavior change to include, among other things, probing socioeconomic and political factors, identifying priorities, assessing risks and opportunities, empowering people, strengthening institutions, and promoting social change within complex cultural and political environments. The development communication is often associated with behavior change could be described to number of factors, such as its application in health programs or its use in mass media to persuade audiences to adopt certain practices. These kinds of interventions are among the most visible, relying heavily on communication campaigns to change people’s behaviors and to eliminate or reduce often fatal risks (for example AIDS). The reality of development, though, is complex and often requires broader changes the specific individual behaviors.

(9) Media and information technologies are not the backbone of development communication. As a matter of fact, the value-added of development communication occurs before media and information and communication technologies (ICTs) are even considered. Of course, media and information technologies are part of development communication, and they are important and useful means to support development. Their application, however, comes at a later stage, and their impact is greatly affected by the communication work done in the research phase. Project managers should be wary of “one-size-fit-all” solutions that appear to solve all problems by using media products. Past experience indicates that unless such instruments are used in connection with other approaches and based on proper research, they seldom deliver the intended results.

(10)Participatory approaches and participatory communication approaches are not the same thing and should not be used interchangeably, but they can be used together, as their functions are often complementary, especially during the research phase. Even if there are some similarities between the two types of approaches, most renowned participatory approaches, such as participatory rural appraisal (PRA) or participatory action research (PAR), do not usually assess the range and level of people’s perceptions and attitudes on key issues, identify communication entry points, and map out the information and communication systems that can be used later to design and implement the communication strategy. Instead, these are all the key activities carried out in a participatory communication assessment.

Adapted from Mefalopulos, P. (2008). Development Communication Sourcebook: Broadening the Boundaries of Communication. Washington DC: The World Bank

Kredit Foto : unesco.org
Read More

Apr 16, 2016

Bapak Penyuluh Pertanian


“…Latar belakang kehidupan petani itu seharusnya menyadarkan kita bahwa petanilah yang seharusnya menjadi titik pusat perhatian kita dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan. Ketika merencanakan, kita bekerja, berpikir, dan bertindak, selalu dan keluarganyalah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.” Demikian kurang lebih kalimat yang dipedomani oleh sosok Salmon Padmanagara, bapak penyuluhan pertanian.

Di era serba teknologi saat ini, kiranya menjadi unik membicarakan mengenai penyuluhan pertanian. Kesannya tema ini merupakan sesuatu yang usang, mengingat teknologi yang sudah demikian canggihnya. Masyarakat pun sudah semakin melek teknologi dan mungkin sudah tidak membutuhkan penyuluh lagi. Namun, lagi-lagi mengutip Bung Karno, janganlah sekali-kali melupakan sejarah. Meskipun, misalnya penyuluhan pertanian sudah habis, nilai-nilai kesemangatan dan visi tokoh yang satu ini dapat menjadi tauladan sepanjang zaman.

Lahir pada 20 Agustus 1927 dari keluarga bangsawan (putra dari bupati Garut Raden Tumenggung Agoes Padmanagara) dan beristerikan bangsawan juga, yakni Nyi Raden Siti Patimah (putri bupati Sumedang Tumenggung Mochamad Singer), Salmon tidak pernah menggunakan gelar ningrat Raden di depan namanya. Sosoknya yang merakyat diwariskan dari kedua orangtuanya, pangreh praja yang selalu gelisah memikirkan kesejahteraan rakyat petani di tengah kolonialisme Belanda.

Pemiskinan petani sudah ada sejak zaman Belanda yang membentuk dua poros terdepan (twee vooruit geschoven posten) berupa onderneming (perkebunan) dan binnelands bestuur. Yang disebut pertama adalah alat kolonial Belanda yang mengeruk kekayaan. Sementara yang kedua bertugas untuk mengamankan alat tersebut, yaitu para pangreh praja atau binnelands bestuur’s ambtenaren. Jadi para bupati hingga wedana memiliki tugas memastikan hasil bumi yang dihasilkan oleh petani disumbangkan sebesar-besarnya untuk penjajah.


Rupanya gambaran penderitaan petani, serta kegelisahan orangtuanya sebagai pangreh praja membekas dalam ingata Salmon. Hal ini nampak pada salah satu potongan pidatonya: “…pada zaman revolusi, saya berada di desa-desa, memegang tugas sebagai pembina masyarakat. Dalam melaksanakan tugas itu, saya banyak bergaul dengan petani, pemuda-petani muda, dan ibu-ibu tani. Saya hidup bersama mereka, bekerja bersama mereka. Latar belakang itu memberikan keyakinan pada saya bahwa mereka, masyarakat petani, adalah unsur penting dari bangsa ini. Di samping masyarakat tani itu, mayoritas merupakan masyarakat terbesar dalam jumlah, mereka pun menjadi penghasil komoditas pertanian paling besar serta menjadi sumber penghidupan terbesar….”

“…Pada zaman revolusi, petani menjadi pemberi kehidupan bagi bangsa ini. Merekalah yang memberi makan seluruh anak bangsa yang sedang berjuang merebut dan mempertahankan negeri ini, dan juga kepada mereka yang sedang mengungsi. Karenanya pada saat itu, petani disebut juga sebagai Soko Guru Revolusi. Setelah kemerdekaan tercapai, kedudukan dan peranan petani dalam pengadaan pangan bagi kehidupan bangsa ini tetap menjadi andalan. Karenanya, saat itu pun, petani mendapat predikat sebagai Soko Guru Pembangunan…” Pidato tentang semangat dan visi Salmon Padmanagara ini diucapkan dengan lantang pada pemberian gelar doktor kehormatan di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Tahun 2004, membuktikan berlanjutnya semangat untuk tetap memerhatikan petani meskipun sudah memasuki usia 77 tahun ketika itu.

Gelar “Bapak Penyuluh Pertanian” untuk Salmon Padmanagara ditetapkan oleh organisasi Kontak Tani-Nelayan Andalan (KTNA) pada acara Pekan Nasional Kontak Tani di Simalungun, Sumatera Utara 1986 dan Penas IX di Lombok 1996. Gelar tersebut tidak semata-mata karena Salmon adalah pejabat tinggi ketika itu, namun lebih didasarkan pada pengabdian, serta visinya pada penyuluhan pertanian.

Pada 1960, bersama Yahod Sumabrata (Kepala Bagian Publikasi, Dokumentasi, dan Penerangan Dinas Pertanian Rakyat Provinsi Jawa Barat) membuat konsep “Kelompok Tani” dalam rangka pelaksanaan Organisasi Pelaksanaan Swasembada Beras. Konsep ini kemudian hari dikembangkan dalam program Bimas, Insus, dan Supra Insus.

Pada awal 1969, ketika dimulai Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I, disusunlah pola pengembangan penyuluhan pertanian yang dikenal sebagai Improvement and Strengthening of Agricultural Extension Activities (Memperbaiki dan Memperkuat Kegiatan Penyuluhan Pertanian), baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Demonstrasi Plot Pancausaha Tani (Demplot), Demonstrasi Usaha Tani secara Berkelompok (Denfarm), dan Demonstrasi Usaha Tani dalam Suatu Wilayah Unit Desa (Demunit), siaran perdesaan, pertemuan, bahan cetakan/visual, pendidikan, serta pelatihan pegawai di lingkungan sektor pertanian yang menangani penyuluhan pertanian.

Pada kurun Pelita I juga ada penyuluhan massal yang bersifat “memaksa” kepada petani. Slogannya yang terkenal kala itu, “Dipaksa, Terpaksa, dan Biasa”, yaitu mengikuti program dan menerapkan paket teknologi yang dianjurkan. Hasilnya memang spektakuler. Dalam Pelita I, produksi beras naik rata-rata 4,6% per tahun, lebih tinggi dari rata-rata kenaikan penduduk yang sebesar 2,5% per tahun. Salmon lah yang mengingatkan bahwa kita harus sangat hati-hati sebab pendekatan penyuluhan dengan slogan “Dipaksa, Terpaksa dan Biasa” pada dasarnya menyimpang dari etika penyuluhan pertanian yang semestinya. Slogan ini memosisikan petani hanya sebagai obyek, bukan menjadi subyek pembangunan pertanian. Hasilnya, “petani biasa dipaksa”, dimana mereka hanya menunggu dan takut berinisiatif.

Salmon juga dianggap mengembangkan Pusat Pelatihan Petani Pedesaan Swadaya (P4S). P4S dianggap sebagai perwujudan dari prinsip penyuluhan yang benar, konsekuen dianut, dan selalu dikembangkan oleh Salmon. Sehingga pada tataran selanjutnya, kebiasaan petani yang hanya menunggu dan minim inisiatif sudah semakin berubah menjadi petani yang mandiri dan kreatif.

Salmon Padmanagara saat ini menikmati hari tuanya di kawasan Pasar Minggu. Kendati telah malang melintang ke berbagai tempat di pelosok bumi ini, dan sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, tapi Salmon tetaplah Salmon Padmanagara yang nyunda, bertutur kata sehari-hari menggunakan bahasa Sunda.

(Disarikan dari Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi Senin 4 April 2016)

Kredit Foto:
1. cianjurekspres.com
2. twitter.com @dadangpadma
Read More

Mar 22, 2016

Memaknai Banjir

Tidak biasanya Yogyakarta terendam banjir. Demikian kata hati warga Yogyakarta yang rumahnya terendam banjir luapan Kali Winongo dan Kali Code pada Sabtu (12/03). Seorang warga mengatakan kalau banjir besar seperti ini terakhir melanda Yogyakarta lebih dari tiga dasawarsa silam, tepatnya pada tahun 1984. Sebagaimana diberitakan harian ini, kerugian dampak banjir diperkirakan mencapai Rp. 200 juta untuk Kabupaten Sleman saja. 

Banjir diindikasikan merupakan ‘kiriman’ dari daerah Pakem dan Turi yang kebetulan pada hari yang sama dilanda hujan lebat. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan, banjir merupakan akibat perilaku kita, warga Yogyakarta. Ada pengabaian perilaku bersih oleh warga penghuni bantaran sungai, yang berakibat pada pendangkalan serta ketidakmampuan daerah aliran sungai menampung curah hujan yang besar. Mungkin ada juga pengabaian perilaku peduli lingkungan yang mengakibatkan banyak lahan yang seharusnya berfungsi sebagai penahan air di daerah hulu berubah fungsi menjadi hunian.


Berawal dari Air

Bertepatan dengan tanggal 22 Maret yang diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Air Internasional, fenomena banjir seakan merupakan momentum pengingat bagi warga Yogyakarta untuk melakukan introspeksi berkenaan dengan air sebagai sumber kehidupan. Mungkin introspeksi dapat dimulai dari sebuah pertanyaan mengenai interaksi manusia dengan air. Misalnya; apakah kita selama ini telah memerlakukan air dengan baik?

Apabila melihat jawaban yang diberikan air melalui banjir, tentu jawaban dari pertanyaan di atas adalah tidak. Pengabaian perilaku-perilaku interaksi yang baik dengan air sebagaimana disebutkan sebelumnya merupakan buah perjalanan kehidupan manusia dengan segala obsesinya. Penjualan lahan di daerah hulu yang kemudian beralih fungsi menjadi hunian berawal dari obsesi penduduk desa untuk mendapatkan penghasilan lebih serta melakukan urbanisasi atau menjadi pekerja commuter di wilayah perkotaan dengan harapan penghasilan yang lebih baik. Selanjutnya, dengan terpenuhinya harapan penghasilan dengan bekerja di perkotaan, fungsi lahan yang sebelumnya menjadi tumpuan penghidupan menjadi tidak penting lagi.

Pengabaian perilaku bersih oleh warga yang tinggal di sepanjang bantaran aliran sungai merupakan akibat ketiadaan akses terhadap fasilitas sanitasi dan kebersihan yang memadai. Ada kemungkinan taraf hidup warga bantaran sungai yang relatif rendah membuat mereka memilih untuk menentukan skala prioritas pada kebutuhan yang dianggap lebih penting daripada memberikan perhatian pada kebersihan sungai.

Mengacu kepada SDGs

Meskipun tidak berlangsung lama, banjir tahun ini tidak dapat dianggap sebagai masalah sederhana. Yogyakarta yang telah menjadi destinasi wisata dunia harus segera berbenah. Peranan pemerintah merupakan faktor utama penanganan banjir. Kiranya pembangunan yang berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam 17 poin SDGs (Sustainable Development Goals) dapat menjadi patokan, yakni penekanan kepada keseimbangan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan.

Ada beberapa poin penting SDGs yang dapat dijadikan prioritas pemerintah. Misalnya saja orientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak. Pemerintah diminta untuk mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.

Untuk tahap pertama, pemerintah dapat merehabilitasi lahan yang berada di daerah hulu. Selain itu, proses urbanisasi dan pekerjaan commuter harus sedikit demi sedikit dikurangi. Pembangunan harus didorong untuk memberikan keuntungan bagi penduduk yang tinggal di pedesaan, terutama di hulu sungai. Penduduk perkotaan yang termarginalisasi di bantaran sungai dapat turut serta memberikan peranannya dengan bekerja dalam pembangunan desa itu.

Air dan Pekerjaan

Introspeksi terhadap kejadian banjir ternyata dapat memberikan perspektif luas kepada warga masyarakat dan pemerintah. Sesuai tema Hari Air Internasional tahun 2016, Air dan Pekerjaan, menjaga air berarti menjaga pekerjaan manusia tetap ada. Akan banyak orang yang bekerja lagi di lingkungan desanya, sementara itu warga yang tinggal di bantaran sungai juga dapat meningkatkan taraf kehidupannya dengan bekerja secara layak di lingkungan barunya.

Yang paling penting tentu saja banjir tidak terjadi lagi di Yogyakarta tercinta ini. Secara lebih luas, sumberdaya air dapat lebih terjaga untuk berlangsungnya penghidupan dan masa depan anak cucu kita.

Foto :
www.kompasiana.com
Read More